Pelatihan Keamanan Pangan Wajib untuk Dapur MBG di Blora: Kunci Sertifikasi dan Kelayakan Operasional
MediaBlora – 21 April 2026 | Blora, 20 April 2026 – Pemerintah daerah bersama mitra penyelenggara program Makan Bergizi Gratis (MBG) meningkatkan standar operasional dengan mengadakan pelatihan keamanan pangan dan gizi bagi seluruh relawan dapur. Kegiatan yang dilangsungkan di Gedung Graha Larasati ini menjadi prasyarat mutlak sebelum dapur MBG dapat mulai melayani penerima manfaat.
Koordinator pelatihan, Caris Azwar dari Yayasan Gema Mustika, menjelaskan bahwa sesi pembekalan dilakukan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Blora. “Ini bukan sekadar formalitas, melainkan langkah preventif agar setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memahami standar kebersihan dan gizi sebelum operasional,” ujarnya kepada wartawan.
Pelatihan hari ini dihadiri oleh tiga SPPG, yakni SPPG Tempelan 1, SPPG Cepu 1, dan SPPG Jetis. Koordinasi lapangan dijalankan oleh SPPG Karangjati, sementara Yayasan Gema Mustika menyediakan fasilitas gedung. Seluruh relawan diwajibkan mengikuti materi yang disampaikan oleh tim Dinas Kesehatan.
Materi pelatihan mencakup empat pilar utama keamanan pangan:
- Teknik cuci tangan yang tepat dan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) untuk menghindari kontaminasi silang.
- Proses pengolahan makanan yang aman, termasuk pemanasan yang cukup untuk membunuh bakteri patogen.
- Penyimpanan makanan sesuai suhu yang direkomendasikan, agar nutrisi tetap terjaga dan pertumbuhan mikroba terhambat.
- Sanitasi peralatan dapur serta kebersihan area kerja secara menyeluruh.
Selain aspek teknis, pelatihan juga menekankan mutu gizi. Relawan diajarkan cara menghitung porsi atau gramasi makanan yang sesuai untuk anak-anak dari berbagai kelompok usia, memastikan bahwa program MBG tidak hanya aman tetapi juga bernilai gizi tinggi.
Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) menjadi syarat tidak dapat dinegosiasikan bagi setiap dapur MBG. Caris menegaskan bahwa untuk memperoleh sertifikat tersebut, keikutsertaan dalam pelatihan keamanan pangan merupakan langkah pertama yang wajib dipenuhi. “Sertifikat ini menjadi jaminan bahwa dapur tidak akan menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) keracunan,” tambahnya.
Pengawasan lapangan akan dilaksanakan oleh Satuan Tugas (Satgas) yang ditunjuk. Jika ditemukan pelanggaran, dapur akan diberikan peringatan tertulis, dilanjutkan dengan evaluasi, dan dalam kasus serius dapat dikenai penangguhan operasional hingga perbaikan standar tercapai.
Seleksi relawan juga diperketat. Calon relawan harus melewati serangkaian tahapan, termasuk wawancara dan pemeriksaan latar belakang khusus pada pengalaman pengolahan makanan. Proses ini pertama kali dilakukan oleh mitra penyelenggara, kemudian diverifikasi kembali oleh masing-masing SPPG. “Sistem terbuka, siapa saja boleh melamar, namun kami menuntut kepatuhan pada prosedur yang ketat,” jelas Caris.
Langkah-langkah ini diharapkan dapat menurunkan risiko keracunan makanan serta meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap program MBG. Dengan standar keamanan dan gizi yang terjamin, program diharapkan dapat memberikan dampak positif pada status gizi anak-anak di wilayah Blora.
Ke depan, Yayasan Gema Mustika dan Dinas Kesehatan berencana memperluas pelatihan ke SPPG lain yang belum mengikuti, serta mengintegrasikan evaluasi berkala untuk memastikan semua dapur tetap memenuhi standar SLHS. Upaya kolaboratif ini mencerminkan komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan makanan yang aman, higienis, dan bergizi bagi seluruh warga.
Secara keseluruhan, pelatihan keamanan pangan bukan sekadar persyaratan administratif, melainkan fondasi utama yang memungkinkan program Makan Bergizi Gratis beroperasi secara optimal tanpa menimbulkan ancaman kesehatan. Dengan pengawasan ketat, sertifikasi resmi, dan seleksi relawan yang selektif, diharapkan dapur MBG di Blora dapat menjadi contoh terbaik dalam implementasi program gizi berskala nasional.
Komentar (0)